Belajar Menulis Buku Ajar Sabugunas Bersama Prof. DR. Subyantoro, M.Hum

Materi tentang Menulis Buku Ajar yang disampaikan oleh Bpk Prof. DR. Subyantoro, M.Hum sangat menarik. Para peserta pelatihan sangat terpukau. Untuk menggugah memotivasi para peserta beliau memberikan opening dalam pelatihan dengan memutar sebuah lagu Senandung Literasi buah karya Oom Nurrohmah. 

Beliau mengatakan bahwa memakai buku teks/buku ajar yang ditulis orang lain merupakan hal yang aneh, apalagi guru mengajar lebih dari lima tahun. Kalau dipikir-pikir iya benar, saya sendiri sudah puluhan tahun selalu berpedoman dengan buku teks. Padahal kita juga tahu banyak buku teks yang tidak kontekstual. Banyak hal yang kurang sesuai dengan faktor geografis siswa. Saya juga langsung memakainya saja tanpa harus menganalisis KD terlebih dahulu. Ingin menulis buku ajar tetapi kemampuan masih belajar. Padahal Beliau Prof. Bi  setiap ulang tahun selalu menghadiahi dirinya sendiri dengan buku karyanya.

Beliau juga mengatakan bahwa faktor keberhasilan menulis menjadi buku ajar 90% merupakan faktor kerja keras dan bakat hanya 5%, selebihnya faktor keberuntungan. Artinya kemauan lebih dominan daripada kemampuan. Mampu tapi tidak mau, maka buku tidak akan terwujud. 

Kemudian Narasumber menampilkan beberapa gaya menulis dari satu tema kopi. Gaya menulis seseorang ada yang senang berbentuk narasi atau cerita, deskripsi atau menggambarkan, eksposisi atau pemaparan, argumentasi atau memberikan pendapat bisa juga meyakinkan pembaca, dan hortatori atau argumen yang bersifat ajakan.

Adapun jenisnya ada 3 golongan: yang pertama lapororan kegiatan ilmiah seperti:PTK, Eksperimen, R&D, dll. Kedua ada tulisan ilmiah populer seperti:novel, cerpen, puisi, dll. Adapun yang ketiga bahan ajar tercetak seperti:buku teks, modul, diktat, karya terjemah atau menyadur, buku pendidikan, dan lainnya.

Beliau juga menyampaikan kriteria buku ajar  yang dikeluarkan UNESCO,1969 bahwa dikatakan buku ajar jika berupa lembaran-lembaran tercetak, minimal 50 ekslempar atau lebih dari 49 halaman jika 48 halaman disebut brosur, terjilid, kertas sampul lebih tebal, bukan terbitan berkala seperti majalah, dan kertas ukuran B5.

Bersambung....








Terimakasih saya sampaikan kepada Yth.
1. Ibu Hj. Sumarwati, S.Pd. M.AP (Kadin)
2. Bpk. Aji Suryo Saronto, M.Pd (Kabid)
3. Bpk. Prof. DR. Subyantoro, M.Hum (Narsum)
4. Bpk. Setyabudi (Narsum Penerbit CV FI)
5. Bpk. Cucu Suryanto (Narsum Penerbit CV FI)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kultum Hari ke-3 Ramadhan 1447 H: Kajian Hadits ke-223 Bulughul Marom

Perbedaan Huruf Athaf Fa dan Tsumma

Kultum Hari ke-2 Ramadhan 1447 H: Kajian Hadits ke-222 Bulughul Marom