Ibarat Kehidupan Oleh Drs. KH. Harun Tafsir, M.Ag
IBARAT KEHIDUPAN.
Tiga binatang kecil ini menjadi nama dari tiga surah di dalam Al-Qur'an, yaitu : An-Naml (semut) - Al-Ankabut (labah-labah) - An-Nahl (lebah).
- An-Naml (Semut).
Semut menghimpun makanan sedikit demi sedikit tanpa berhenti. Konon, binatang ini dapat menghimpun makanan untuk bertahun-tahun. Padahal usianya tidak lebih dari setahun. Ketamakannya sedemikian besar sehingga ia berusaha dan seringkali berhasil memikul sesuatu yang lebih besar dari tubuhnya.
- Al-Ankabut (Labah-labah).
Lain lagi huraian Al-Qur'an tentang labah-labah. Sarangnya adalah tempat yang paling rapuh (Al 'Ankabuut; 29:41), ia bukan tempat yang aman, apapun yang berlindung di sana akan binasa. Bahkan jantannya disergapnya untuk dihabiskan oleh betinanya. Telur-telurnya yang menetas saling berdesakan hingga dapat saling memusnahkan. Inilah gambaran yang mengerikan dari kehidupan sejenis binatang.
- An-Nahl (Lebah).
Akan halnya lebah, memiliki naluri yang dalam bahasa Al-Qur'an - "atas perintah Tuhan ia memilih gunung dan pohon-pohon sebagai tempat tinggal" (An Nahl;16:68). Sarangnya dibuat berbentuk segi enam bukannya lima atau empat agar efisien dalam penggunaan ruang. Yang dimakannya adalah serbuk sari bunga.
Lebah tidak menumpuk makanan.
Lebah menghasilkan lilin dan madu yang sangat manfaat bagi manusia. Lebah sangat disiplin, mengenal pembagian kerja, segala yang tidak berguna disingkirkan dari sarangnya. Lebah tidak mengganggu kecuali jika diganggu. Bahkan sengatannya pun dapat menjadi ubat.
Sahabat !
Sikap manusia dapat diibaratkan dengan berbagai jenis binatang ini :
- Ada yang berbudaya 'semut'. Sering menghimpun dan menumpuk harta. Bertimbun ilmu yang tidak dimanfaatkan. Budaya 'semut' adalah budaya 'ketamakan’. Pemborosan, foya-foya adalah implementasinya.
- Ada yang berbudaya labah-labah. Entah berapa banyak juga jenis 'labah-labah' yang ada di sekeliling kita. Yang hanya berfikir: "Siapa yang dapat dijadikan mangsa"
- Ada yang meniru kehidupan Lebah.
Nabi Muhammad SAW mengibaratkan seorang mukmin sebagai 'lebah'. Sesuatu yang tidak merusak dan tidak menyakitkan :"Tidak makan kecuali yang baik, tidak menghasilkan kecuali yang bermanfaat dan jika menimpa sesuatu tidak merusak dan tidak pula memecahkannya" Berguna dan bermanfaat dalam membantu.
Semoga kita menjadi ibarat lebah. Insya Allah. Amin.
Kampung Likas, Sya'ban 1441 H.
Komentar
Posting Komentar