Tahaduts Bini'mah: Selamat dari Kecelakaan
Dan setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun.
(Al a'raf:34)
Alhmdulillah, saya dan istri saya masih ditaqdirkan oleh Allah SWT. untuk menambah ibadah. Karena telah diselamatkan dari kecelakaan yang diprediksi parah, bahkan menemui ajal. Tragedi ini tepatnya pada hari Senin, 9 Maret 2020. Begini ceritanya.
Setelah pulang kerja, saya langsung menjemput istri saya yang bertugas di Puskesmas. Tepat pukul 14.30 saya sudah berboncengan menuju ke rumah. Perjalanan saya lewat Kajen, karena ada keperluan ke ATM dan isi BBM. Namun, istri saya ingin mampir dulu mengajak makan Soto di Si Bedug. Setelah makan selesai hujan pun turun, namun belum begitu deras. Saya melanjutkan perjalanan tanpa jas hujan karena hanya hujan rintik-rintik.
Di POM bensin saya ke ATM dulu, namun tiba-tiba hujan sangat lebat. Saya dan istri setelah isi BBM tetap melanjutkan perjalanan dengan memakai jas hujan. Saya agak gelap jika kaca helm tertutup, namun jika dibuka mata saya sakit karena terkena air hujan yang keras. Perjalanan pun melaju hingga lampu merah jembatan selatan Polsek Kajen.
Setelah melewati Masjid Pandongane sebelah barat terminal Kajen saya ingat sudah mematikan lampu send/riting. Betapa terkejutnya melihat dari arah barat ada mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Tepat di depan penjual mie ayam saya refleks mengambil jalur sebelah kiri. Namun, tanpa diduga mobil yang melaju kencang ambil jalur kanan atau di sebelah kiri saya. Innalillahi...
Saya waktu itu blank tidak ada yang dipikirkan. Istriku histeris menjerit sekuatnya, saya juga samar-samar mendengar takbir istriku. Aku belum sadar kalau saya selamat. Anehnya motor yang saya naiki berada tepat di tengah jalan berdekatan dengan mobil merah yang terparkir di separoh badan jalan depan mie ayam. Secara logika berpikir normal saya sudah tertabrak mobil karena saya sudah dipinggir jalan sebelah paling kiri dan jalan yang di sebelah kiri saya sangat sempit mustahil bisa dilalui mobil yang lebarnya satu meteran.
Begitulah ajal, jika belum ditaqdirkan oleh Allah SWT. Maka tidak bisa maju dan juga tidak bisa mundur, walaupun hanya satu detik. Alhamdulillah saya masih diberi kesempatan oleh Allah SWT. bertaubat. Namun, saya sedih mengapa di saat naza' menghadapi sakaratul maut yang begitu tiba-tiba (ngaget dalam bahasa Jawa) lisan dan hati saya tidak siap mengucapkan kalimat tauhid. Padahal setiap hari saya berusaha mengamalkan kalimat toyibah seperti: Lailaha illalloh, tasbih, tahmid dan takbir. Begitu dahsyat sekali maut menjemput. Begitu bodohnya saya hingga yang dipikirkan hanya selamat dunia tapi bukan memikirkan selamat untuk akhirat saya. Astaghfirulloh..
Alhamdulillah, saya sehabis sholat maghrib langsung sujud syukur karena masih diberi kesempatan bertaubat dan beribadah kepada Allah SWT. Istriku shock berat hingga jatuh sakit.
Pesan saya kepada diri saya mohon selalu berdzikir kepada Allah di setiap waktu karena kematian datangnya secara tiba-tiba. Mohonlah perlindungan dari godaan syaithon. Mintalah ampunan kepada Allah. Berdoa semoga diberikan khusnul khotimah. Dimatikan dalam keadaan yang baik.
Cerita ini sebagai ungkapan tahaduts bini'mah
(menceritakan nikmat dari Allah swt.) berupa keselamatan dari kecelakaan. Juga hampir di akhir hayat saya tidak sempat mengucapkan kalimat Lailaha illalloh. sekarang diberi kenikmatan berkesempatan untuk memperbanyak latihan lisan dan hati agar selalu dzikir LAA ILAHA ILLALLOH MUHAMMADUROSULULLOH.
Sekian,
Komentar
Posting Komentar