Best Practices: Upaya Menumbuhkan Karakter Siswa Melalui Permainan "Go-Pat-Hong" Pada Siswa Kelas V SD


UPAYA MENUMBUHKAN KARAKTER SISWA
DALAM PEMBELAJARAN IPA MELALUI PERMAINAN
“GO-PAT-HONG” PADA SISWA KELAS V SD

Sudik
SDN 02 Windurojo, Kab. Pekalongan Jawa Tengah
sudikmd@gmail.com

ABSTRAK

Permendikbud Nomor 20 Tahun 2018 dinyatakan bahwa PPK pada satuan pendidikan formal diselenggarakan dengan mengoptimalkan fungsi kemitraan tripusat pendidikan dengan pendekatan yang berbasis kelas, budaya sekolah dan masyarakat. Pentingnya menumbuhkan karakter siswa SD dalam pembelajaran IPA melalui permainan tradisional “Go-Pat-Hong” karena 100% siswa merasa senang belajar sambil bermain di luar kelas. Alasan kedua bahwa permainan “Go-Pat-Hong” dapat menumbuhkan karakter nasionalisme, religiusitas, gotong-royong, mandiri, dan integritas. Tujuan best practice ini untuk mendeskripsikan pengalaman mengajar terbaik pada tema sehat itu penting melalui permainan “Go-Pat-Hong” dalam upaya menumbuhkan karakter siswa kelas V SDN 02 Windurojo pada tahun pelajaran 2019/2020. Hasil dan pembahasan pada penerapan pembelajaran  melalui permainan tradisional “Go-Pat-Hong” sebagai berikut; (1) sikap religiusitas, yaitu kejujuran siswa dalam permaian belum terlihat ada yang menonjol, bahkan dua siswa masih perlu bimbingan karena bermain curang;(2) sikap nasionalisme, belum kelihatan ada yang menonjol, juga tidak ada yang perlu bimbungan;(3) sikap mandiri, sudah ada 4 siswa yang menonjol, namun masih ada seorang siswa yang perlu bimbingan, karena masih bergantung pada teman kelompoknya; (4) sikap gotong-royong, terlihat sudah banyak yang menonjol terutama pada kekompakan tim, ada 10 siswa, namum masih ada satu siswa yang masih pelu bimbingan; (5) integritas, masih ada satu siswa yang perlu bimbingan karena tidak mematuhi aturan permainan.

Kata kunci: Karakter; Sehat Itu Penting; Go-Pat-Hong”

Pendahuluan
Penulis mulai bertugas kembali di SDN 02 Windurojo ini sejak 01 November 2019. Sebelumnya bertugas menjadi guru SILN di Malaysia selama dua tahun satu bulan, yaitu sejak Oktober 2016-Oktober 2018. Sudah satu tahun saya mengajar di SDN 02 Windurojo ini, jika diamati secara akademik, tingkat kompetensi siswa masih kategori rendah. Terbukti jarang sekali meraih kejuaraan lomba akademik di tingkat kecamatan, kecuali non akademik. Faktor yang memengaruhi sangat kompleks di antaranya: faktor geografis, karena letak sekolah tersebut di daerah yang terpencil jauh dari kota kecamatan. Faktor orangtua siswa juga berpengaruh terhadap perkembangan akademik siswa, yaitu sebagaian besar orangtuanya merantau ke Jakarta, sedang mereka tinggal bersama nenek atau saudaranya. Faktor pendidik, yaitu sebagaian besar pendidik tempat tinggalnya di kota. Begitu juga dari faktor sarpras minimnya buku pegangan siswa, media pembelajaran, dan penunjang lainnya dikarenakan terbatasnya anggaran dari dana BOS yang diterima. Jumlah siswa seluruhnya hanya ada 94 siswa, tahun sebelumnya hanya 84 siswa. Untuk menopang banyaknya kegiatan yang bersifat kompetisi siswa di tingkat kecamatan, berdampak pada terbengkelainya pos-pos lainnya.
Faktor minat dan motivasi belajar siswa menurut penulis juga rendah, terbukti siswa hanya mampu mengikuti belajar hanya berdurasi tigapuluh menit. Siswa mudah lelah jika pembelajaran berlangsung konvesional. Materi menghafal pengetahuan seperti IPA, seorang guru harus banyak melakukan kegiatan berupa praktik, simulasi, demonstrasi, permainan, dan lainnya. Pendekatan pembelajaran dengan permainan tradisonal masih digemari anak-anak. Selain menyenangkan, juga menumbuhkan karakter. Karakter yang diharapkan muncul yaitu, karakter relegiusitas, nasionalisme, mandiri, gotong royong dan integritas.
Pada kurikulum 2013, siswa tidak hanya dinilai dari satu sisi kompetensi akademik saja, akan tetapi penilaian dilakukan secara holistik yaitu penilaian sikap spiritual, sikap sosial, kognitif dan keterampilan (skill). Permendikbud Nomor 20 Tahun 2018 dinyatakan bahwa PPK pada satuan pendidikan formal diselenggarakan dengan mengoptimalkan fungsi kemitraan tripusat pendidikan dengan pendekatan yang berbasis kelas, budaya sekolah dan masyarakat. Dalam mengoptimalisasi penguatan pendidikan karakter tersebut, Dinas Pendidikan Kabupaten Pekalongan melalui pengawas sekolah pada KKG guru kelas dengan merancang rubrik penilaian secara manual dalam bentuk daftar penilaian sikap spiritual (KI-1), daftar nilai sikap sosial (KI-2), daftar nilai pengetahuan (KI-3), dan daftar nilai keterampilan (KI-4). Khusus penilaian KI-1dan KI-2 penilaiannya membutuhkan pengamatan dari berbagai pihak, baik warga sekolah, keluarga di rumah, dan masyarakat sekitar.
Di tingkat sekolah atau kelas dalam mengimplementasi penguatan pendidikan karakter dilakukan berbagai jenis kegiatan pembiasaan, budaya kelas, maupun berbasis masyarakat. Sesuai Pasal 6 Permendikbud Nomor 20 Tahun 2018 dinyatakan bahwa PPK pada satuan Pendidikan formal diselenggarakan dengan mengoptimalkan fungsi kemitraan tripusat pendidikan dilaksanakan dengan pendekatan yang berbasis: kelas, budaya sekolah dan masyarakat (https://ainamulyana.blogspot.com).
Penulis mengembangkan pembelajaran pada tema “Sehat Itu Penting”  melalui permainan tradisional “Go-Pat-Hong” yang disukai siswa, sehingga pembelajaran menyenangkan dan bermakna. Ketika pembelajaran sudah menyenangkan, siswa terasa berada pada dunianya, sehingga siswa tidak bosan belajar. Permainan ini dapat diamati langsung oleh guru, baik dari kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
Pentingnya best practice (pengalaman terbaik) ini penulis tuangkan dalam bentuk laporan, untuk menyukseskan program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dalam menyiapkan generasi emas 2045 yang memiliki kecakapan abad 21 serta siap menghadapi revolusi industi 4.1.
Berdasarkan latar belakang masalah, maka secara garis besar identifikasi masalah dapat dikemukakan yakni  bahwa permainan tradisional “Go-Pat-Hong” di samping siswa merasa senang belajar sambil bermain, juga dapat menumbuhkan sikap spiritual dan sosial. Maka, berdasarkan identifikasi masalah tersebut, penulis mengajukan rumusan masalah sebagai berikut; Bagaimana mendeskripsikan pengalaman mengajar terbaik pada tema sehat itu penting melalui permainan “Go-Pat-Hong” dalam upaya menumbuhkan karakter siswa kelas V SDN 02 Windurojo pada tahun pelajaran 2019/2020?
Adapun tujuan dari best practices ini adalah mendeskripsikan pengalaman mengajar terbaik pada tema sehat itu penting melalui permainan “Go-Pat-Hong” dalam upaya menumbuhkan karakter siswa kelas V SDN 02 Windurojo pada tahun pelajaran 2019/2020.
Manfaat best practices ini, antara lain; (1) Hasil best practices ini dapat dijadikan arsip perpustakaan sekolah. (2) Hasil best practices ini dapat dijadikan referensi dalam pembelajaran, sebagai budaya berbasis kelas, budaya sekolah, maupun budaya berbasis masyarakat. (3) Hasil best practices ini dapat dijadikan sebagai salah satu syarat pemenuhan pengembangan diri untuk kenaikan tingkat/jabatan PNS.

Kajian Pustaka

Menurut Robet E. Slavin (2011:266) Dalam merencanakan pembelajaran, penting dipertimbangkan tujan afeksi (tujuan yang berkaitan dengan sikap dan nilai siswa) dan juga kognisi. Afeksi atau sikap atau perilaku ini yang dibiasakan secara terus-menerus akan membentuk karakter. Lebih jauh Slavin juga mengemukakan bahwa kecintaan terhadap pembelajaran, kepercayaan diri dalam pembelajaran, dan pengembangan sikap prososial dan kerjasama adalah tujuan terpenting yang seharusnya diberikan guru bagi siswa mereka.
Menurut Pusat Bahasa Depdiknas, (Dalam Jurnal Puslitjak, edisi: April 2014) disebutkan bahwa karakter adalah bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak. Adapaun berkarakter adalah berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, dan berwatak. Individu yang berkarakter baik atau unggul adalah seseorang yang berusaha melakukan hal-hal yang terbaik terhadap Tuhan YME, dirinya, sesame, lingkungan, bangsa dan negara serta dunia internasional pada umumnya dengan mengoptimalkan potensi (pengetahuan) dirinya dan disertai dengan kesadaran, emosi dan motivasinya (perasaannya).
Menurut T. Ramli (2003), Pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Tujuannya adalah membentuk pribadi anak, supaya menjadi manusia yang baik, warga masyarakat, dan warga negara yang baik. (Inpres Nomor 1 tahun 2010 tentang Pendidikan karakter di Pendidikan Dasar dan Menengah).
Pendidikan karakter pada intinya bertujuan membentuk bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, bergotong royong, berjiwa patriotik, berkembang dinamis, berorientasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang semuanya dijiwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan Pancasila (Daryanto & Dwi Cahyono Aris, 2014:39).
PPK pada jenjang pendidikan dasar dilaksanakan melalui kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler. Pada Pasal 6 Permendikbud Nomor 20 Tahun 2018 dinyatakan bahwa PPK pada satuan Pendidikan formal diselenggarakan dengan mengoptimalkan fungsi kemitraan tripusat pendidikan dilaksanakan dengan pendekatan yang berbasis: kelas, budaya sekolah dan masyarakat (https://ainamulyana.blogspot.com). Terdapat lima nilai karakter utama yang bersumber dari Pancasila, yang menjadi prioritas pengembangan gerakan PPK; yaitu religiusitas, nasionalisme, integritas, kemandirian dan kegotong-royongan. Masing-masing nilai tidak berdiri dan berkembang sendiri-sendiri, melainkan saling berinteraksi satu sama lain, berkembang secara dinamis dan membentuk keutuhan pribadi.
Go-pat-hong merupakan akronim dari tiga permainan sekaligus melakukan pembelajaran menyenangkan, bermain sambal belajar. Yaitu gobak-sodor, patahan, dan hong-hongan. Gobak sodor merupakan salah satu permainan tradisional di Indonesia. Arena permainannya sangat mudah. Hanya membutuhkan halaman yang luasnya kira-kira 4x3 meter garis pembatas menggunakan kapur atau abu. Arena permainan atau sirkuit berupa persegi panjang yang dibagi menjadi 4 bagian yang sama luas. Permainan dilakukan oleh dua tim. Satu tim terdiri dari 4 anak. Sebelum bermain kedua tim melakukan undian, boleh dengan ping-sut atau dengan koin. Salah satu tim ada yang dinyatakan jaga dan ada tim yang bermain. Teknik permainannya tim yang bermain memasuki arena dengan melalui beberapa rintangan hingga garis finish dan kembali lagi ke start dengan melalui rintangan. Pemenangnya adalah yang berhasil lolos berkali-kali dengan melewati rintangan dalam satu tim.
Permainan yang kedua patahan. Patahan berasal dari nama alat yang digunakan menggunakan kereweng. Arena permainan juga sangat mudah dibuat. Bentuknya seperti bukaan kubus ada delapan petak. Permainan ini dilakukan secara individu. Untuk menentukan awal permainan tidak berbeda dengan gobak-sodor menggunakan undian. Bagi yang menang akan bermain terlebih dahulu. Jumlah pemain tidak terbatas karena sifatnya individu. Teknik permainan patahan diawali pemenang undian atau pingsut/hom pimpah. Seorang pemain membawa kereweng, lalu dilempar ke petak pertama. Jika lemparan tepat maka melakukan jingklak dengan satu kaki hingga ujung dan kembali lagi dengan mengambil patah tersebut. Hal ini dilakukan secara terus-menerus hingga berhasil mendapatkan sawah berpetak, kecuali patah yang dilempar keluar batas. Pemengangnya adalah yang memerolah banyak petak (sawah).
Permainan yang ketiga yaitu, hong-hongan. Hong-hongan jenis permainan petak umpet yang dilakukan secara individu. Alat dan bahan yang diperlukan dalam permainan ini meliputi; arena, patah (kereweng), dan area petak umpet yang luas. Arena tempat bermain sangat mudah dibuat, yaitu dengan membuat lingkaran dengan diameter kurang lebih satu meter. Cara membuat lingkaran sama seperti membuat arena gobak-sodor maupun patahan. Teknik permainannya yaitu, pada awalnya semua pemain melempar patahan (kereweng) dari garis yang telah disepakati. Setelah semua pemain melempar kereweng, lalu bagi pemain yang jaraknya paling jauh maka itulah yang jaga di lingkaran kereweng semua peserta yang ditumpuk. Pemain yang berjaga menutup matanya. Sedangkan pemain yang lain bersembunyi. Setelah semua sembunyi, peserta yang jaga mencari-cari peserta yang bersembunyi. Bagi peserta yang ketahuan persembunyiannya maka sang penjaga mengucapkan kata-kata dengan menyebut namanya yang ditemukan. Bagi peserta yang bisa melompat lingkaran dengan menyambar tumpukan kereweng tanpa didahului penjaga, maka permainan selesai itulah pemenangnya.
Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar pad kurikulum 2013 terintegrasi menjadi satu tema. Setiap tema memuat beberapa muatan pelajaran yang saling terkait dan terintegrasi. Tema 4 Sehat itu penting memuat tiga mupel yaitu IPA, Bahasa Indonesia, dan SBdP. Adapun KD dari IPA  pada ranah pengetahuan tentang menjelaskan organ peredaran darah dan fungsinya pada hewan dan manusia serta cara memelihara kesehatan organ peredaran darah manusia. Pada ranah keterampilan  menyajikan karya tentang organ peredaran darah pada manusia.
Dengan memadukan pembelajaran tematik dan permainan go-pat-hong, maka pembelajaran menarik dan menyenangkan. Siswa belajar di luar kelas tidak jenuh, karena tanpa terasa materi dan tugas telah terselesaiakan. Teknik pembelajarannya menggunakan sintak pendekatan saintifik yang meliputi: mengamati, menanya, mencoba, menalar, dan mengomunikasikan.

C. Metode
Penulis menggunakan teknik penulisan  best practice. Best Practice yang dipaparkan di sini merupakan pengalaman terbaik menurut  penulis yaitu, penerapan permainan “Go-Pat-Hong” dalam upaya menumbuhkan karakter siswa kelas V SDN 02 Windurojo pada tahun pelajaran 2019/2020. Adapun beberapa alat/instrument yang penulis gunakan adalah antara lain, berupa RPP yang berbasis karakter dan instrumen kegiatan kokurikuler untuk menguatkan kegiatan intrakurikuler, photo-photo kegiatan, data siswa, video, catatan lapangan, kegiatan ekstrakurikuler, dan catatan penilaian sikap.
Observasi berperan serta dengan menggunakan angket tertutup/wawancara terstruktur, berupa data awal siswa, proses, dan data akhir dalam mengikuti implementasi penerapan permainan “Go-Pat-Hong” . Menurut Sugiyono (2012:145) Teknik pengumpulan data dengan observasi bila, penelitian berkenaan dengan perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam dan bila responden tidak terlalu besar.
Tempat penguatan pendidikan karakter melalui penerapan budaya mendeskripsikan pengalaman mengajar terbaik pada tema sehat itu penting melalui permainan “Go-Pat-Hong” dalam upaya menumbuhkan karakter pada siswa kelas V di SDN 02 Windurojo pada tahun pelajaran 2019/2020. SDN 02 Windurojo beralamat di Dusun Kuthowangi, Desa Windurojo, Kec. Kesesi, Kab. Pekalongan, Jawa Tengah. Letak SD ini di sebelah selatan Kecamatan Kesesi, perbatasan dengan Kecamatan Kandangserang dan Kabupaten Pemalang.

D. Hasil dan Pembahasan
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh penulis, bahwa pembelajaran  siswa  kelas V dalam tema sehat itu penting melalui permainan tradisional “go pat hong” terhadap penumbuhan lima karakter yang menjadi fokus best pratice yaitu: relegiusitas, nasionalisme, mandiri, gotong-royong, dan integritas. Berikut tabel analisis hasil pengamatan langsung selama pembelajaran terjadi.
Tabel 1 Analisis Nilai Karakter
No.
Karakter
SB
B
PB
1.
Religiusitas

13
2
2.
Nasionalisme

15

3.
Mandiri
4
10
1
4.
Gotong-royong
10
4
1
5.
Integritas

14
1

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh penulis dari awal, proses hingga akhir pembelajaran terdapat catatan-catatan sebagai berikut; (1) sikap religiusitas, yaitu kejujuran siswa dalam permaian belum terlihat ada yang menonjol, bahkan dua siswa masih perlu bimbingan karena bermain curang;(2) sikap nasionalisme, belum kelihatan ada yang menonjol, juga tidak ada yang perlu bimbungan;(3) sikap mandiri, sudah ada 4 siswa yang menonjol, namun masih ada seorang siswa yang perlu bimbingan, karena masih bergantung pada teman kelompoknya; (4) sikap gotong-royong, terlihat sudah banyak yang menonjol terutama pada kekompakan tim, ada 10 siswa, namum masih ada satu siswa yang masih pelu bimbingan; (5) integritas, masih ada satu siswa yang perlu bimbingan karena tidak mematuhi aturan permainan.

E. Simpulan
Karakter yang ditumbuhkan dalam pembelajaran melalui permaian “go-pat-hong” antara lain. Sikap religiusitas, dua siswa masih perlu bimbingan karena bermain curang. Sikap nasionalisme, kategori baik. Sikap mandiri, sudah ada 4 siswa yang menonjol. Sikap gotong-royong, sudah banyak yang menonjol terutama pada kekompakan tim, ada 10 siswa. Integritas, masih ada satu siswa yang perlu bimbingan karena tidak mematuhi aturan permainan.
Saran dan rekomendasi dari penulis, pengalaman best practice ini sebaiknya menjadi referensi dan inspirasi bagi para pendidik dalam menumbuhkan dan menguatkan pendidikan karakter di sekolah. Adapun rekomendasi penulis, kepada stakeholder seperti Dinas Pendidikan Kabupaten Pekalongan untuk memberikan apresiasi dengan menerbitkan artikel hasil best practice penulis di jurnal resmi Dindikbud sehingga dapat digunakan untuk pengembangan diri penulis. Permainan tradisional sangat bermanfaat sebagai refres bagi siswa yang suka bermain gawai, game online dan gadjet.

Daftar Pustaka

Daryanto & Cahyono D. A. 2014. Pengembangan Perangkat Pembelajaran. Yogyakarta: Gava Media.
Karmidah (2014), Pelaksanaan Pendidikan Karakter Pada Satuan Pendidikan Melalui Pembelajaran dan Budaya Sekolah.Jurnal Puslitjak Kemendikbud Edisi April 2014. Volume.7 Nomor 1.
Permendikbud Nomor 20 Tahun 2018
Slavin Robert. E. 2011. Psikologi Pendidikan Teori dan Praktik (Edisi Kesembilan). Jakarta: PT. Indeks
Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfa Beta.
T. Ramli (2003), dalam Inpres No. 1 Tahun 2010 tentang Pendidikan Karakter di Pendidikan Dasar dan Menengah.
diunduh di Pekalongan, 16 September 2019
https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2017/07/penguatan-pendidikan-karakter-jadi-pintu-masuk-pembenahan-pendidikan-nasional                                       diunduh di Pekalongan, 16 September 2019

Sekian, semoga bermanfaat
Mohon maaf masih tahap belajar menulis. Kritik dan saran saya harapkan guna perbaikan tulisan kecil ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kultum Hari ke-3 Ramadhan 1447 H: Kajian Hadits ke-223 Bulughul Marom

Perbedaan Huruf Athaf Fa dan Tsumma

Kultum Hari ke-2 Ramadhan 1447 H: Kajian Hadits ke-222 Bulughul Marom